Diskusi Seni “Menyambut Renaisans Seni Rupa Cianjur”
Cianjur, http://medianuansasinarnews.com- Diskusi seni “Menyambut Renaisans Seni Rupa Cianjur” Acara yang digagas oleh para perupa cianjur tersebut cukup memberikan kesegaran terhadap penatnya gelora batin para perupa Cianjur yang selama ini terbungkam, tentang pentingnya arah seni rupa di Cianjur.
Acara, bertempat The Coffee Ben. Jl. Selamet No.57, Bojongherang, Kec. Cianjur, Kabupaten Cianjur. Acara dimulai pada pukul 09.00 Wib sampai dengan selesai. Kamis 15 Agustus 2024.
Diskusi Seni “Menyambut Renaisans Seni Rupa Cianjur” Acara yang di moderatori oleh Heri Firmansyah selaku sekretaris Dewan Kesenian Cianjur (DKC), bersama 2 narasumber seni rupa yaitu Diyanto sebagai kurator juga seniman, dan Jaja Ilalang praktisi seni, seniman Cianjur.
Hadir pada kesempatan tersebut ketua dewan kesenian Cianjur, Yusuf gigan, S.Pd., Adam jabar, para pelaku seni, para Akademisi seni, para pengamat seni, kurator seni, para budayawan serta para tamu undangan lainnya.

Seni rupa Cianjur, jika kita bicara dari sisi modalitas sebenarnya ini sangat potensial, Cianjur bukan hanya memiliki keterhubungan dalam konteks seni rupa (seni lukis) terhadap Raden Saleh sebagai bapak realisme Indonesia, namun jika melihat pertumbuhan keseni rupaan di masa sekarang, sebagai salah satu contoh diskusi seni dan pameran lukisan tunggal Christhoper alexander, putra daerah Cianjur yang sedang berlangsung, membuktikan bahwa denyutnya bisa terbaca dengan baik.

Ruang intim seperti The Coffee Ben itu sangat potensial dalam membangun dan membaca sekaligus ritme kolektif para seniman Cianjur, terutama generasi anak-anak muda yang berkumpul, merumuskan berbagai gagasannya tentang keseni rupaan Cianjur.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu narasumber Diskusi Seni, Diyanto, bahwa para perupa di Cianjur harus total sebagai pelaku seni, paradigma yang selama ini memiliki skat-skat terhadap kelompok tertentu dalam kantong kesenian, itu sudah harus tidak berlaku.

“Saya kira sekarang ini saat nya untuk bekerja dengan lebih total, Ya, tentu karena Sekarang juga kita tahu skat-skat itu semakin terbuka, jadi paradigma pusat dan pinggiran itu memang harus kita lampaui dengan cepat juga, tidak ada lagi bahwa pusat itu ada dijogja atau jakarta dan sebagainya, tetapi kreatifitas itu bisa memancar keluar berdasarkan, misalnya kita bisa membaca perkembangan Saint, teknologi dan sebagainya, itu saya kira, kalau ini di sadari bersama, Cianjur bukan lagi sebagai sesuatu yang terpencil dalam seni rupa, tetapi akan tekoneksi dengan singapura, hongkong dan dunia luar lainnya,” ujar Diyanto. Kamis (15/08/2024).
“Apa yang terjadi di cafe The Coffee Ben, ini kemudian juga bisa menular ke cafe-cafe yang yang lainnya, sehingga suatu saat Cianjur mungkin juga akan punya artmart, satu forum yang berarti satu bulan, dimana semua titiknya menyala dari sini, jadi gallery kecil ini, seperti satelit-satelit atau kantong-kantong seni rupa yang secara bersama dalam membangun sinergitas keseni rupaan,” pungkas diyanto.
Christhoper Alexander, pelukis yang sedang berpameran tunggal di The Coffee Ben, menyampaikan bahwa kegiatan diskusi Seni ini sangat penting, sebagai sebuah upaya untuk terus mengkampanyekan, mendengungkan gelombang keseni rupaan Cianjur untuk dunia.
red-
