Curhatan Tokoh Masyarakat Adat Kampung Naga kepada Abah Anton Charliyan dan Tim MASDA Jabar
Tasikmalaya, http://medianuansasinarnews.com- Berbagai keprihatinan sekaligus harapan masyarakat Adat Kampung Naga disampaikan langsung kepada Anton Charliyan selaku Ketua Umum Majelis Adat Sunda Jabar (MASDA Jabar) saat melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Kampung Adat Naga, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (26/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Abah Anton Charliyan bersama tim MASDA Jabar sengaja berjalan kaki menuju kawasan Kampung Naga untuk bertemu langsung dengan para tokoh masyarakat adat. Kebetulan dalam kesempatan itu hadir beberapa tokoh adat, di antaranya Abah Tajudin selaku sesepuh, Bah Ucu sebagai pemangku adat, Kang Aceng dan Kang Aep sebagai wakil nonoman (pemuda), serta beberapa masyarakat lainnya yang ikut ngumpul ngariung.
Seperti biasa, obrolan pun mengalir santai, adu bako ngobrol ngaler-ngidul. Dari situlah muncul berbagai curhatan tentang kondisi Kampung Adat Naga saat ini. Para tokoh masyarakat menyampaikan bahwa posisi kampung adat tersebut persis berada di tepi sungai besar. Dari tahun ke tahun terjadi pendangkalan sungai, sehingga ketika curah hujan tinggi sering terjadi banjir. Bahkan mereka mengingatkan, pada tahun 2017 pernah terjadi banjir kiriman besar yang mengakibatkan rusaknya tanah dan sawah garapan masyarakat, bahkan sampai merusak sebagian kawasan kampung adat.
Baca juga: Hotel Laut Biru Jadi Contoh Pengelolaan IPAL di Pangandaran
Untuk itu mereka berharap adanya upaya penggalian dan pendalaman sungai. Walaupun selama ini masyarakat sudah beberapa kali melakukan gotong royong untuk memperbaiki kondisi tersebut, namun hasilnya dirasakan belum maksimal. “Kalau tidak digali dan diperdalam, mungkin tanah pinggiran sungai sepanjang kampung ini sekitar satu kilometer perlu ditinggikan minimal setengah meter, supaya bisa menahan limpahan air kalau hujan besar,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat.
Selain itu, tanggul yang ada saat ini juga dinilai perlu diperpanjang agar aliran sungai bisa ditahan atau dialihkan ke tempat yang lebih aman. Para tokoh adat juga menilai perlu adanya penambahan penghijauan di bantaran sungai serta di sekitar kampung dan leuweung (hutan) agar kondisi lingkungan menjadi lebih kuat. Akibat banjir yang terjadi, saluran irigasi untuk sawah garapan masyarakat juga mengalami kerusakan dan penyempitan.

Ketika ditanya mengenai kondisi bangunan rumah adat, para tokoh masyarakat menyampaikan kondisi yang cukup memprihatinkan. “Sekarang banyak atap rumah yang sudah bocor. Untuk beli ijuk pun sekarang harganya sangat mahal, sudah tidak terjangkau oleh masyarakat adat. Akibatnya kayu-kayu rumah banyak yang sudah lapuk dan rusak,” ujar mereka.
Kondisi tersebut membuat banyak rumah adat yang memerlukan perbaikan. Tidak hanya rumah, tetapi juga berbagai fasilitas umum masyarakat seperti leuit (lumbung padi), pacilingan (toilet), imah gede, imah leutik, mushola, saung lisung, hingga bedug yang membutuhkan perbaikan serius dan segera. Sementara untuk kebutuhan minyak tanah, masyarakat mengaku sudah terbantu karena sejak sekitar tahun 2010 mereka mendapat subsidi dari Pemerintah.
Namun demikian, meskipun menghadapi berbagai kesulitan, masyarakat adat Kampung Naga menegaskan bahwa mereka tidak akan meminta bantuan kepada siapapun. “Bagi masyarakat adat Naga, meminta itu termasuk pantangan. Tapi kalau ada yang memberi dengan ikhlas dan tulus, kami tidak akan menolak, asal tidak bertentangan dengan adat tradisi yang sudah ada,” ungkap para tokoh adat.
Agar masyarakat adat dapat bangkit kembali, para tokoh berharap adanya perhatian dari para inohong pemerintahan untuk membantu memperbaiki kondisi kampung secara menyeluruh. Selain itu mereka juga berharap adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pertanian dan peternakan dengan tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Abah Tajudin menyampaikan keinginannya agar masyarakat dapat menanam berbagai tanaman produktif seperti pohon pala, kelapa kopyor, kopi, melon Inggris, nanas madu, jambu stek, markisa, tebu, gaharu, jati Belanda, kapol, umbi Cilembu, serta pare atau padi khusus seperti beras merah dan bibit ketan. “Pokoknya tanaman-tanaman produktif yang bisa langsung dijual dengan harga yang kompetitif dan masa tanamnya relatif singkat. Kalau bisa dengan metode khusus seperti polybag atau greenhouse dengan bibit pilihan terbaik,” ungkap Abah Tajudin.

Sementara itu Bah Ucu menambahkan bahwa lahan leuweung garapan yang ada saat ini hanya sekitar 11 hektare. “Untuk ukuran masyarakat adat itu sangat kecil. Akibatnya hasil panen terbatas, tidak bisa banyak menyimpan beras di leuit. Ketahanan pangan jadi sangat rentan dan mengkhawatirkan. Karena itu perlu adanya perluasan tanah garapan agar masyarakat lebih semangat dan percaya diri,” jelasnya.
Dari kalangan nonoman, Kang Aceng dan Kang Aep juga menyampaikan keinginan untuk mengembangkan sektor peternakan dan perikanan seperti pembibitan ayam petelur, ayam kampung, ayam Bangkok, domba Garut, serta budidaya ikan nila dan gurame. Namun mereka mengakui masih terkendala masalah klasik, yaitu keterbatasan modal dan akses pemasaran. “Hasil pertanian dan peternakan sering dijual murah karena pemasaran lebih banyak dikuasai bandar. Kami berharap ada jalur bantuan pemasaran dari pemerintah,” ujar mereka.
Baca juga: Wajib Pajak Didorong Lebih Taat Aturan dan Hukum dalam Kewajiban Pajak
Selain itu, mereka juga berharap Kampung Adat Naga dapat ditata lebih indah dengan taman yang asri, menghadirkan tanaman hijau dan bunga yang tetap produktif. Jalan-jalan setapak juga diharapkan bisa dibalut batu agar tidak licin dan becek.
Obrolan siang itu berlangsung hangat sambil menikmati kopi pahit dan goreng pisang di warung Kang Ucu. “Mudah-mudahan obrolan ini bukan hanya sekadar impian kami. Melalui tim Majelis Adat Sunda Jabar mudah-mudahan bisa nepi ka Pangagung atawa para gegeden nu aya di Gedung Sate,” ungkap salah seorang tokoh adat menutup perbincangan.
Itulah sekelumit dialog antara tim Majelis Adat Sunda Jabar dengan masyarakat Adat Kampung Naga yang diharapkan dapat menjadi perhatian bersama dan segera ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan terkait.
Red-
